<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>toni dermawan y &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://tonidermawan.net/category/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tonidermawan.net</link>
	<description>tempat cari pelajaran dan ilmu pengetahuan</description>
	<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 13:26:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Gempuran itu</title>
		<link>http://tonidermawan.net/gempuran-itu.html/</link>
		<comments>http://tonidermawan.net/gempuran-itu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 12:59:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Gempuran]]></category>

		<category><![CDATA[Israel]]></category>

		<category><![CDATA[Palestina]]></category>

		<category><![CDATA[Yahudi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tonidermawan.net/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Sejak awal pergantian tahun baru, dari tahun 2008 menuju tahun 2009, berita-berita di televisi yang memberitakan mengenai gempuran Israel Yahudi ke wilayah Gaza di Palestina.
Ada yang aneh dengan tulisan saya di atas? Mengapa saya mencoret kata Israel dan menggantinya dengan Yahudi? Saat saya sedang menjelajahi dunia maya, saya menemukan artikel yang bagus. Dari artikel tersebut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejak awal pergantian tahun baru, dari tahun 2008 menuju tahun 2009, berita-berita di televisi yang memberitakan mengenai gempuran <span style="text-decoration: line-through;">Israel</span> Yahudi ke wilayah Gaza di Palestina.</p>
<p><span lang="SV">Ada yang aneh dengan tulisan saya di atas? Mengapa saya mencoret kata Israel dan menggantinya dengan Yahudi? Saat saya sedang menjelajahi dunia maya, saya menemukan artikel yang bagus. Dari artikel tersebut saya mendapatkan ilmu bermanfaat bagi saya dan tentunya masih banyak kaum muslim di Indonesia yang tidak mengetahui hal ini ataupun yang tahu hal ini tetapi tidak mau melaksanakannya. Hal ini apa sih yang saya bicarakan dari tadi? Saya tidak membicarakan mengenai gempuran yang dilakukan oleh Yahudi terhadap warga Palestina, tetapi ada hal yang lain yang menarik jika saya beritahukan kepada Anda. Saya harus meng<em>-copypaste </em>semua artikel tersebut, tidak bisa saya ringkas karena jika diringkas akan menghilangkan makna dari artikel tersebut.</span><!--[if gte vml 1]&gt;                  &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><span id="more-244"></span><!--[endif]--></p>
<blockquote><p><span lang="SV">Sungguh sangat memprihatinkan, banyak di antara kaum muslimin sering tidak sadar dan lepas kontrol ketika berbicara. Tidak hanya terjadi pada orang awam, bisa kita katakan juga terjadi pada sebagian besar pelajar atau bahkan mereka yang merasa memiliki banyak <em>tsaqafah islamiyah</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">Barangkali mereka lupa atau mungkin tidak tahu bahwa Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pernah bersabda:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span></p>
<p><em><span lang="SV">Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, diucapkan tanpa kontrol akan tetapi menjerumuskan dia ke neraka.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Al Bukhari 6478)</span></p>
<p><span lang="SV">Al Hafidz Ibn Hajar berkata dalam <em>Fathul Bari</em> ketika menjelaskan hadis ini, yang dimaksud diucapkan tanpa kontrol adalah tidak direnungkan bahayanya, tidak dipikirkan akibatnya, dan tidak diperkirakan dampak yang ditimbulkan. Hal ini semisal dengan firman Allah ketika menyebutkan tentang tuduhan terhadap Aisyah:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">???????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah.”</span></em><span lang="SV"> (QS. An-Nur: 15)</span></p>
<p><span lang="SV">Oleh karena itu, pada artikel ini -dengan memohon pertolongan kepada Allah- penulis ingin mengingatkan satu hal terkait dengan ayat dan hadis di atas, yaitu sebuah ungkapan penamaan yang begitu mendarah daging di kalangan kaum muslimin, sekali lagi tidak hanya terjadi pada orang awam namun juga terjadi pada mereka yang mengaku paham terhadap <em>tsaqafah islamiyah</em>. Ungkapan yang kami maksud adalah penamaan YAHUDI dengan ISRAEL. Tulisan ini banyak kami turunkan dari sebuah risalah yang ditulis oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali <em>hafidzhahullah</em> yang berjudul <em>“Penamaan Negeri Yahudi yang Terkutuk dengan Israel”</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">Tidak diragukan bahkan seolah telah menjadi kesepakatan dunia termasuk kaum muslimin bahwa negeri yahudi terlaknat yang menjajah Palestina bernama Israel. Bahkan mereka yang mengaku sangat membenci yahudi -sampai melakukan boikot produk-produk yang diduga menyumbangkan dana bagi yahudi- turut menamakan yahudi dengan israel. Akan tetapi sangat disayangkan tidak ada seorang pun yang mengingatkan bahaya besar penamaan ini.</span></p>
<p><span lang="SV">Perlu diketahui dan dicamkan dalam benak hati setiap muslim bahwa ISRAIL adalah nama lain dari seorang Nabi yang mulia, keturunan Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> yaitu Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>. Allah ta’ala berfirman:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan.”</span></em><span lang="SV"> (QS. Ali Imran: 93)</span></p>
<p><span lang="SV">Israil yang pada ayat di atas adalah nama lain dari Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>. Dan nama ini diakui sendiri oleh orang-orang yahudi, sebagaimana disebutkan dalam hadis dari Ibn Abbas <em>radhiallahu ‘anhu</em>: <em>“Sekelompok orang yahudi mendatangi Nabi untuk menanyakan empat hal yang hanya diketahui oleh seorang nabi. Pada salah satu jawabannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah kalian mengakui bahwa Israil adalah Ya’qub?” Mereka menjawab: “Ya, betul.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ya Allah, saksikanlah.”</em> (HR. Daud At-Thayalisy 2846)</span></p>
<p><span lang="SV">Kata “Israil” merupakan susunan dua kata <em>israa</em> dan <em>iil</em> yang dalam bahasa arab artinya <em>shafwatullah</em> (kekasih Allah). Ada juga yang mengatakan <em>israa</em> dalam bahasa arab artinya <em>‘abdun</em> (hamba), sedangkan <em>iil</em> artinya Allah, sehingga Israil dalam bahasa arab artinya <em>‘Abdullah (hamba Allah)</em>. (lihat <em>Tafsir At Thabari</em> dan <em>Al Kasyaf</em> ketika menjelaskan tafsir surat Al Baqarah ayat 40)</span></p>
<p><span lang="SV">Telah diketahui bersama bahwa Nabi Ya’qub adalah seorang nabi yang memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah ta’ala. Allah banyak memujinya di berbagai ayat al Qur’an. Jika kita mengetahui hal ini, maka dengan alasan apa nama Israil yang mulia disematkan kepada orang-orang yahudi terlaknat. Terlebih lagi ketika umat islam menggunakan nama ini dalam konteks kalimat yang negatif, diucapkan dengan disertai perasaan kebencian yang memuncak; <em>Biadab Israil… Israil bangsat… Keparat Israil…</em> Atau dimuat di majalah-majalah dan media massa yang dinisbahkan pada islam, bahkan dijadikan sebagai Head Line News; <em>Israil membantai kaum muslimin… Agresi militer Israil ke Palestina… Israil penjajah dunia…. Dan seterusnya…</em> namun sekali lagi, yang sangat fatal adalah ketika hal ini diucapkan tidak ada pengingkaran atau bahkan tidak merasa bersalah.</span></p>
<p><span lang="SV">Mungkin perlu kita renungkan, pernahkah orang yang mengucapkan kalimat-kalimat di atas merasa bahwa dirinya telah menghina Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>? pernahkah orang-orang yang menulis kalimat ini di majalah-majalah yang berlabel islam dan mengajak kaum muslimin untuk mengobarkan jihad, merasa bahwa dirinya telah membuat tuduhan dusta kepada Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>? mengapa mereka tidak membayangkan bahwasanya bisa jadi ungkapan-ungkapan salah kaprah ini akan mendatangkan murka Allah - <em>wal ‘iyaadzu billaah</em> - karena isinya adalah pelecehan dan tuduhan bohong kepada Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>. Mengapa tidak disadari bahwa Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em> tidak ikut serta dalam perbuatan orang-orang yahudi dan bahkan beliau berlepas diri dari perbuatan mereka yang keparat. Pernahkah mereka berfikir, apakah Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em> ridha andaikan beliau masih hidup?!</span></p>
<p><span lang="SV">Allah ta’ala berfirman:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">???????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mu’min dan mu’minat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.”</span></em><span lang="SV"> (QS. Al Ahzab: 58)</span></p>
<p><span lang="SV">Allah menyatakan, menyakiti orang mukmin biasa laki-laki maupun wanita sementara yang disakiti tidak melakukan kesalahan dianggap sebagai perbuatan dosa, bagaimana lagi jika yang disakiti adalah seorang Nabi yang mulia, tentu bisa dipastikan dosanya lebih besar dari pada sekedar menyakiti orang mukmin biasa.</span></p>
<p><span lang="SV">Satu hal yang perlu disadari oleh setiap muslim, penamaan negeri yahudi dengan Israil termasuk salah satu di antara sekian banyak konspirasi (makar) yahudi terhadap dunia. Mereka tutupi kehinaan nama asli mereka YAHUDI dengan nama Bapak mereka yang mulia Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em>. Karena bisa jadi mereka sadar bahwa nama YAHUDI telah disepakati jeleknya oleh seluruh dunia, mengingat Allah telah mencela nama ini dalam banyak ayat di Al-Qur’an.</span></p>
<p><span lang="SV">Kita tidak mengingkari bahwa orang-orang yahudi merupakan keturunan Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em>, akan tetapi ini bukan berarti diperbolehkan menamakan yahudi dengan nama yang mulia ini. Bahkan yang berhak menyandang nama dan warisan Nabi Ibrahim <em>‘alaihis salam</em> dan para nabi yang lainnya adalah kaum muslimin dan bukan yahudi yang kafir. Allah ta’ala berfirman:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????????????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.”</span></em><span lang="SV"> (QS. Ali Imran: 67)</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">??</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Sesungguhnya orang yang paling berhak terhadap Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini, beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.”</span></em><span lang="SV"> (QS. Ali Imran: 68)</span></p>
<p><span lang="SV">Semoga Allah memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk mengucapkan dan melakukan perbuatan yang dicintai dan di ridai oleh Allah ta’ala.</span></p>
<p><span lang="SV">* * *</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Sedikitpun kami tidak berniat menghina Nabi Ya’qub ‘alaihis salam dalam penggunaan kalimat-kalimat ini sebaliknya, yang kami maksud adalah yahudi…”</span></em></p>
<p><span lang="SV">Barangkali ini salah satu pertanyaan yang akan dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin ketika menerima nasihat ini. Maka jawaban singkat yang mungkin bisa kita berikan: Justru inilah yang berbahaya, seseorang melakukan sesuatu yang salah namun dia tidak sadar kalau dirinya sedang melakukan kesalahan. Bisa jadi hal ini tercakup dalam hadis dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> di atas. Bukankah semua pelaku perbuatan bid’ah tidak berniat buruk ketika melakukan kebid’ahannya, namun justru inilah yang menyebabkan dosa perbuatan bid’ah tingkatannya lebih besar dari melakukan dosa besar.</span></p>
<p><span lang="SV">Ketika Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berdakwah di Mekkah, Orang-orang musyrikin Quraisy mengganti nama Beliau <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dengan Mudzammam (manusia tercela) sebagai kebalikan dari nama asli Beliau Muhammad (manusia terpuji). Mereka gunakan nama Mudzammam ini untuk menghina dan melaknat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. misalnya mereka mengatakan; <em>“terlaknat Mudzammam”, “terkutuk Mudzammam”</em>, dan seterusnya. Dan Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> tidak merasa dicela dan dilaknat, karena yang dicela dan dilaknat orang-orang kafir adalah “Mudzammam” bukan “Muhammad”, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Tidakkah kalian heran, bagaimana Allah mengalihkan dariku celaan dan laknat orang Quraisy kepadaku, mereka mencela dan melaknat Mudzammam sedangkan aku Muhammad.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Ahmad &amp; Al Bukhari)</span></p>
<p><span lang="SV">Meskipun maksud orang Quraisy adalah mencela Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, namun karena yang digunakan bukan nama Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> maka Beliau tidak menilai itu sebagai penghinaan untuknya. Dan ini dinilai Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sebagai bentuk mengalihkan penghinaan terhadap dirinya. Oleh karena itu, bisa jadi orang-orang Yahudi tidak merasa terhina dan dijelek-jelekkan karena yang dicela bukan nama mereka namun nama Nabi Ya’qub <em>‘alaihis salam</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">Di samping itu, Allah juga melarang seseorang mengucapkan sesuatu yang menjadi pemicu munculnya sesuatu yang haram. Allah melarang kaum muslimin untuk menghina sesembahan orang-orang musyrikin, karena akan menyebabkan mereka membalas penghinaan ini dengan menghina Allah ta’ala. Allah berfirman:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa ilmu.”</span></em><span lang="SV"> (QS. Al An’am: 108)</span></p>
<p><span lang="SV">Allah ta’ala melarang kaum muslimin yang hukum asalnya boleh atau bahkan disyari’atkan - menghina sesembahan orang musyrik - karena bisa menjadi sebab orang musyrik menghina Allah subhanahu wa ta’ala. Dan kita yakin dengan seyakin-yakinnya, tidak mungkin para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> yang menyaksikan turunnya ayat ini memiliki niatan sedikitpun untuk menghina Allah ta’ala. Maka bisa kita bayangkan, jika ucapan yang menjadi sebab celaan terhadap kebenaran secara tidak langsung saja dilarang, bagaimana lagi jika celaan itu keluar langsung dari mulut kaum muslimin meskipun mereka tidak berniat untuk menghina Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em>.</span></p>
<p><span lang="SV">* * *</span></p>
<p><em><span lang="SV">Cuma sebatas istilah, yang pentingkan esensinya… bahkan para ulama’ memiliki kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah.”</span></em></p>
<p><span lang="SV">Di atas telah dipaparkan bahwa menamakan negeri yahudi dengan Israil merupakan celaan terhadap Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em>, baik langsung maupun tidak langsung, baik diniatkan untuk mencela maupun tidak, semuanya dihitung mencela Nabi Israil <em>‘alaihis salam</em> tanpa terkecuali. Dan kaum muslimin yang sejati selayaknya tidak meremehkan setiap perbuatan dosa atau perbuatan yang mengundang dosa. Karena dengan meremahkannya akan menyebabkan perbuatan yang mungkin nilainya kecil menjadi besar. Sebagaimana dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa di antara salah satu penyebab dosa kecil menjadi dosa besar adalah ketika pelakunya meremehkan dosa kecil tersebut.</span></p>
<p><span lang="SV">Bahkan kita telah memahami bahwa mencela, menghina, melakukan tuduhan dusta kepada seorang Nabi adalah dosa besar. Akankah hal ini kita anggap ini biasa?! Sekali lagi, akan sangat membahayakan bagi seseorang, ketika dia mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan murka Allah, sementara dia tidak sadar. Mereka sangka itu perkara ringan, padahal itu perkara besar bagi Allah. (QS. An-Nur: 15)</span></p>
<p><span lang="SV">Untuk kaidah “Tidak perlu memperdebatkan istilah”, kita tidak mengingkari keabsahan kaidah ini mengingat ungkapan tersebut merupakan kaidah yang masyhur di kalangan para ulama’. Akan tetapi maksud kaidah ini tidaklah melegalkan penamaan Yahudi dengan Israel. Karena kaidah ini berlaku ketika makna istilah tersebut sudah diketahui tidak menyimpang, sebagaimana yang dipaparkan oleh Abu Hamid Al Ghazali dalam bukunya <em>Al Mustashfaa fi Ilmil Ushul</em>.</span></p>
<p><em><span lang="SV">Istilah Israil untuk negeri yahudi telah menjadi konsensus (kesepakatan) dunia. Kita cuma ikut-ikutan…</span></em></p>
<p><span lang="SV">Setiap kaum muslimin selayaknya berusaha menjaga syi’ar-syi’ar islam, misalnya dengan belajar bahasa arab (baik lisan maupun tulisan), menghafalkan Al Qur’an, dan termasuk dalam hal ini adalah membiasakan diri untuk menggunakan istilah-istilah yang Allah gunakan dalam Al Qur’an atau dalam hadis Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> selama istilah tersebut dapat dipahami orang lain.</span></p>
<p><span lang="SV">Sebagai bentuk pemeliharaan terhadap syi’ar islam, para sahabat terutama Umar Ibn Al Khattab <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sangat menekankan agar umat islam mempelajari bahasa arab. Beliau pernah mengatakan: <em>“Pelajarilah bahasa arab, karena itu bagian dari agama kalian.”</em> Beliau juga mengatakan: <em>“Hati-hati kalian dengan bahasa selain bahasa arab.”</em> Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> membenci kaum muslimin membiasakan diri dengan berbicara selain bahasa arab tanpa ada kebutuhan, dan ini juga yang dipahami oleh para sahabat lainnya <em>radhiyallahu ‘anhum</em>. Mereka (para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em>) menganggap bahasa arab sebagai konsekuensi agama, sedangkan bahasa yang lainnya termasuk syi’ar kemunafikan. Karena itu, ketika para sahabat berhasil menaklukkan satu negeri tertentu, mereka segera mengajarkan bahasa arab kepada penduduknya meskipun penuh dengan kesulitan. (lihat <em>Muqaddimah Iqtidla’ Shirathal Mustaqim</em>, Syaikh Nashir al ‘Aql)</span></p>
<p><span lang="SV">Dalam bahasa arab, waktu sepertiga malam yang awal dinamakan <em>‘atamah</em>. Orang-orang arab badui di zaman Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memiliki kebiasaan menamai shalat Isya’ dengan nama waktu pelaksanaan shalat isya’ yaitu <em>‘atamah</em>. Kebiasaan ini kemudian diikuti oleh para sahabat <em>radhiyallahu ‘anhum</em> dengan menamakan shalat isya’ dengan shalat <em>‘atamah</em>. Kemudian Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang mereka melalui sabdanya:</span></p>
<p><span style="font-family:Tahoma;">??</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">?????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">????????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">??????</span><span> </span><span style="font-family:Tahoma;">???????</span></p>
<p><em><span lang="SV">“Janganlah kalian ikut-ikutan orang arab badui dalam menamai shalat kalian, sesungguhnya dia adalah shalat Isya’, sedangkan orang badui menamai shalat isya dengan ‘atamah karena mereka mengakhirkan memerah susu unta sampai waktu malam.”</span></em><span lang="SV"> (HR. Ahmad, dinyatakan Syaikh Al Arnauth sanadnya sesuai dengan syarat Muslim)</span></p>
<p><span lang="SV">Al Quthuby mengatakan: <em>“Agar nama shalat isya’ tidak diganti dengan nama selain yang Allah berikan, dan ini adalah bimbingan untuk memilih istilah yang lebih utama bukan karena haram digunakan dan tidak pula menunjukkan bahwa penggunaan istilah ‘atamah tidak diperbolehkan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan istilah ini dalam hadisnya…”</em> (<em>‘Umdatul Qori Syarh Shahih Al Bukhari</em> karya Al ‘Aini)</span></p>
<p><span lang="SV">Demikianlah yang dilakukan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabat dalam menjaga syi’ar islam. Sampai menjaga istilah-istilah yang diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, padahal penggunaan istilah asing dalam penamaan shalat isya’ tidak sampai derajat haram, karena tidak mengandung makna yang buruk.</span></p>
<p>***</p>
<p><span lang="FI">Lalu dengan apa kita menamai mereka?! Kita menamai mereka sebagaimana nama yang Allah berikan dalam Al-Qur’an, YAHUDI dan bukan ISRAEL. Dan sebagaimana disampaikan di atas, hendaknya setiap muslim membiasakan diri dalam menamakan sesuatu sesuai dengan yang Allah berikan. Hendaknya kita namakan orang-orang yang mengaku pengikut Nabi Isa <em>‘alahis salam</em> dengan NASRANI bukan KRISTIANI, kita namakan hari MINGGU dengan AHAD bukan MINGGU, kita namakan shalat dengan SHALAT bukan SEMBAHYANG dan seterusnya selama itu bisa dipahami oleh orang yang diajak bicara, sebagai bentuk penghormatan kita terhadap syi’ar-syi’ar agama islam. <em>Wallaahu waliyyut taufiiq…</em></span></p>
<p><span lang="FI">***</span></p>
<p><span lang="FI">Judul Artikel: Yahudi Bukan Israel<br />
Penulis: Ammi Nur Baits<br />
<em>Link </em>Artikel: </span><a href="http://muslim.or.id/manhaj-salaf/yahudi-bukan-israel.html"><span lang="FI">www.muslim.or.id</span></a></p></blockquote>
<p><span lang="FI">Tolong dibaca semua kata yang terdapat dalam artikel tersebut kemudian pahami makna-makna yang terkandung di dalamnya. Sesuai dengan Firman Allah SWT, </span></p>
<blockquote><p><em><span lang="FI">“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta Ulul amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu urusan maka kembalikanlah pemecahannya kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. </span></em><em><span lang="SV">Yang demikian itu pasti lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.”</span></em><span lang="SV"> (QS. An Nisaa’: 59), </span></p></blockquote>
<p><span lang="SV">saya akan menamai mereka (Yahudi) sesuai dengan yang Allah berikan kepada mereka. </span>Apakah Anda juga begitu?</p>
<p class="MsoNormal">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonidermawan.net/gempuran-itu.html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jangan menjadi orang yang sok tahu!</title>
		<link>http://tonidermawan.net/jangan-menjadi-orang-yang-sok-tahu.html/</link>
		<comments>http://tonidermawan.net/jangan-menjadi-orang-yang-sok-tahu.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 09:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[disiplin]]></category>

		<category><![CDATA[Sok tahu]]></category>

		<category><![CDATA[sopan santun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tonidermawan.net/?p=209</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya saya sedang malas untuk menulis di blog ini karena saya mengalami krisis ide yang diakibatkan karena kesibukan lain. Kalau memutuskan untuk hiatus, agak berat bagi saya untuk tidak menulis (rasanya ada yang hilang dari diri saya   ), meskipun saat ini tidak ada ide yang memang benar-benar saya ingin tulis di blog ini.
Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sebenarnya saya sedang malas untuk menulis di blog ini karena saya mengalami krisis ide yang diakibatkan karena kesibukan lain. Kalau memutuskan untuk hiatus, agak berat bagi saya untuk tidak menulis (rasanya ada yang hilang dari diri saya <code> <img src='http://tonidermawan.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </code>), meskipun saat ini tidak ada ide yang memang benar-benar saya ingin tulis di blog <a href="http://tonidermawan.net" target="_blank">ini</a>.</p>
<p>Ada sedikit cerita yang menarik tentang orang yang sok tahu.<span id="more-209"></span> Jadi, suatu ketika saya dan teman-teman sedang mengajukan proposal untuk kegiatan kerja sosial kepada pemimbing kami. Saya dan teman-teman berasal dari berbagai macam Fakultas yang ada di UI. Tema kerja sosial yang kami angkat yaitu &#8220;Menanamkan disiplin dan sopan santun sejak dini&#8221;, tema yang menurut saya sangat berhubungan dengan Fakultas Psikologi, teman-teman saya tidak ada yang berasal dari Fakultas Psikologi. Ternyata proposal yang kami ajukan itu pada bagian latar belakang menurut pembimbing kami, latar belakang terkesan dibuat asal-asalan, karena memang kami tidak melakukan studi literatur seperti membaca buku atau koran. Kami pun ditanya perbuatan yang mencakup sopan santun atau disiplin, bahkan ditanya definisi mengenai sopan santun (saya sendiri tidak tahu artinya <code> <img src='http://tonidermawan.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </code>). Saya merasa menjadi orang yang sok tahu karena membicarakan sesuatu tanpa ada landasan yang kuat hanya berdasarkan pemikiran semata.</p>
<p>Terkadang saya juga menjadi orang yang sok tahu jika ditanya seseorang, namun terkadang pula saya menjawab tidak tahu. Saya berusaha jika berbicara dengan seseorang didukung dengan alasan atau argumentasi yang valid.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonidermawan.net/jangan-menjadi-orang-yang-sok-tahu.html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Boleh nggak yah?</title>
		<link>http://tonidermawan.net/boleh-nggak-yah.html/</link>
		<comments>http://tonidermawan.net/boleh-nggak-yah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 06:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Ms. Word]]></category>

		<category><![CDATA[Office 2003]]></category>

		<category><![CDATA[Office Portable]]></category>

		<category><![CDATA[Open Source]]></category>

		<category><![CDATA[OpenOffice]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tonidermawan.net/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Saya bingung harus memulai darimana. Jadi begini, teman-teman tentunya pernah kan menggunakan Microsoft Word buat urusan tulis-menulis, saya yakin teman-teman sudah mengetahuinya. Terus apa masalahnya?
Masalahnya sih dibilang ringan juga nggak, dibilang berat juga nggak, terus apaan donk?Saya ini menyukai aplikasi-aplikasi komputer yang portable(bisa diinstall tanpa jadi admin), terus ada satu masalah sebenarnya, terkadang ada sebagian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya bingung harus memulai darimana. Jadi begini, teman-teman tentunya pernah kan menggunakan Microsoft Word buat urusan tulis-menulis, saya yakin teman-teman sudah mengetahuinya. Terus apa masalahnya?<span id="more-205"></span></p>
<p>Masalahnya sih dibilang ringan juga nggak, dibilang berat juga nggak, terus apaan donk?Saya ini menyukai aplikasi-aplikasi komputer yang <em>portable</em>(bisa diinstall tanpa jadi admin), terus ada satu masalah sebenarnya, terkadang ada sebagian komputer atau laptop milik teman saya yang tidak dipasang aplikasi Ms. Word, adanya itu OpenOffice Swriter(padanan Word) alias OO Swriter. Masalahnya sih berangkat dari ketidaksamaan format (misalkan: paragraf, gambar, dll) antara OO Swriter dengan Ms. Word, kadang-kadang males banget tuh ngebenerin format keduanya masa setiap kali dibuka dengan aplikasi OO Swriter atau Ms. Word harus dibenerin apalagi kalau sedang ada <em>deadline</em> tugas. Tetapi kalau dari awal memakai ekstensi .ODT(kayak .DOC tapi di OpenOficce) itu sih gampang, tapi sama juga harus install program OpenOffice juga.</p>
<p>Nah ini dia!Kemaren saya menemukan Office 2003 yang <em>portable</em> terus saya coba mengunduhnya dan menginstall di komputer. Saya jadi bingung sendiri mau memakai Office 2003 yang portable atau OpenOffice yang portable?</p>
<p>Menurut pendapat teman-teman, boleh nggak saya memakai Office 2003 yang <em>portable</em> meski itu sebenarnya salah (hohoho, ngaku <code> <img src='http://tonidermawan.net/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> </code>) atau saya memutuskan untuk <em>go Open Source</em> dengan menggunakan OpenOffice?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonidermawan.net/boleh-nggak-yah.html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Gonta-ganti Operator dengan Nomor yang Sama</title>
		<link>http://tonidermawan.net/gonta-ganti-operator-dengan-nomor-yang-sama.html/</link>
		<comments>http://tonidermawan.net/gonta-ganti-operator-dengan-nomor-yang-sama.html/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jul 2008 13:35:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[Number Portability]]></category>

		<category><![CDATA[Operator]]></category>

		<category><![CDATA[Seluler]]></category>

		<category><![CDATA[Telekomunikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tonidermawan.net/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Saya baru tahu mengenai hal ini (mengganti operator tetapi nomornya masih sama dengan yang lama (operator sebelumnya)) setelah membaca di detikinet pada artikel  &#8220;Perang Telepon &#8216;Ancam&#8217; Orang Terkaya di Dunia&#8220;. Setelah saya mencari artikel lain yang mungkin sudah membahas ini (Teknologi Number Portability (NP)), ternyata sudah dibahas sejak tahun 2006 (data yang saya temukan). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya baru tahu mengenai hal ini (mengganti operator tetapi nomornya masih sama dengan yang lama (operator sebelumnya)) setelah membaca di detikinet pada artikel  &#8220;<a href="http://www.detikinet.com/read/2008/07/04/080133/966774/328/perang-telepon-ancam-orang-terkaya-di-dunia" target="_blank"><strong>Perang Telepon &#8216;Ancam&#8217; Orang Terkaya di Dunia</strong></a>&#8220;. Setelah saya mencari artikel lain yang mungkin sudah membahas ini (Teknologi <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Mobile_number_portability" target="_blank"><em>Number Portability</em></a> (NP)), ternyata sudah dibahas sejak tahun <a href="http://dgk.or.id/archives/2006/09/30/number-portability/" target="_blank">2006</a> (data yang saya temukan). Dari yang saya baca memang butuh persiapan yang lama dari pihak telekomunikasi kita.  Menurut artikel <a href="http://dgk.or.id/archives/2006/09/30/number-portability/" target="_blank">ini</a>, sebelum menuju ke NP ada beberapa kemungkinan yaitu :</p>
<ul>
<li>Mergernya beberapa operator selular kemudian berganti menjadi nama baru.<span id="more-156"></span></li>
<li>Adanya penggunaan secara bersama infrastruktur telekomunikasi untuk masing-masing operator. Mungkin tower dan bandwidth bisa jadi prioritas yang utama.</li>
<li>Matinya beberapa operator yang tidak dapat bersaing dengan operator-operator besar.</li>
<li>Memerlukan <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/23/time/094052/idnews/943638/idkanal/328" target="_blank">investasi</a> tambahan.</li>
</ul>
<p>Sedangkan menurut mas <a href="http://blog.kenz.or.id/2007/03/28/number-portability-np-sulit-diterapkan-di-indonesia.html" target="_blank">kenz</a>, NP sulit diterapkan di Indonesia disebabkan <strong>operator tidak mau rugi mengeluarkan uang untuk pengembangan <em>Number Portability</em> di Indonesia</strong> dan <strong>perilaku pemakai telepon seluler yang berganti nomor karena budaya yang dibentuk oleh operator-operator yang bermain di Indonesia</strong>. Menurut saya, ide untuk implementasi NP di Indonesia merupakan ide yang sangat bagus meskipun beberapa operator yang kurang setuju. Wakil Dirut Bakrie Telecom Muhammad Buldansyah, &#8220;<em>Dari sisi teknis mungkin tidak ada masalah, barangkali dari sisi investasi perusahaan yang perlu ditambah dan dari sisi perangkat karena harus menambah switching baru dan memerlukan investasi tambahan yang belum dihitung</em>&#8220;. Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk. Hasnul Suhaimi <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/03/tgl/27/time/154909/idnews/759386/idkanal/328" target="_blank">mengatakan</a>, &#8220;<em>NP sulit diterapkan di Indonesia</em>&#8220;. <em>Vice President Marketing and CRM</em> Telkomsel Hendri Mulya Sjam <a href="http://plinplan.com/internet/18735/2008/03/11/telkomsel-belum-akan-adopsi-number-portability/" target="_blank">mengatakan</a>, &#8220;<em>Pihaknya belum membahas masalah tersebut secara internal</em>&#8220;. Sebagian operator memang belum siap untuk implementasi NP. Namun saya ingin sekali jikalau teknologi NP ini bisa diterapkan di Indonesia, kan asyik nggak perlu beli perdana operator lain. Satu nomor yang sama bisa berubah-ubah operatornya, apalagi sekarang banyak tarif perang antar operator yang cenderung merugikan konsumen (konsumen dibohongi). Rencananya teknologi NP ini akan diterapkan di Indonesia pada tahun <a href="http://www.detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/22/time/183020/idnews/943483/idkanal/328)" target="_blank">2011</a>. Baru rencana memang, tetapi saya harap rencana ini bukan hanya menjadi wacana saja karena memang NP sudah diterapkan di <a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0509/08/telkom/2024436.htm" target="_blank">beberapa negara</a> yaitu Singapura pada 1997, Australia pada 2001, Finlandia Juli 2003, dan Meksiko yang dimulai pada minggu pertama Juli 2008.</p>
<p>Teknologi yang memang saya butuhkan saat ini mengingat operator yang saya gunakan yaitu Telkomsel yang cenderung masih mahal dibandingkan oeprator lain. Mau pindah operator, sayangnya nomor saya ini sudah tersebar dimana-mana (halah), kalau mau ganti harus SMS semua teman-teman dan saudara saya. Akhirnya sampai saat ini saya masih bertahan dengan nomor yang lama.</p>
<p>Buat Pemerintah semoga NP bukan menjadi omongan saja, tetapi memang cocok diterapkan di Indonesia. Apalagi persaingan antar operator yang cenderung kurang sehat. Buat operatornya juga mendukung NP, jangan lagi mengecewakan atau bahkan membohongi konsumen.</p>
<p>Sebagai penutup saya copy-paste <a href="http://64.203.71.11/kompas-cetak/0509/08/telkom/2024436.htm">tulisan</a> Fitri Yuli Zulkifli ST, M.Sc Tenaga Pengajar di Departemen Teknik Elektro FT UI,  &#8220;<em>Timbulnya monopoli sistem telekomunikasi seluler karena matinya operator-operator yang tidak mampu bertahan bukanlah sesuatu yang ingin dicapai dengan penerapan mobile number portability. Sebaliknya, operator-operator yang terlibat juga harus memiliki kapasitas jumlah pelanggan yang cukup sehingga mampu menerima adanya migrasi pelanggan</em>&#8220;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonidermawan.net/gonta-ganti-operator-dengan-nomor-yang-sama.html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pentingnya menjaga sebuah amanah</title>
		<link>http://tonidermawan.net/pentingnya-menjaga-sebuah-amanah.html/</link>
		<comments>http://tonidermawan.net/pentingnya-menjaga-sebuah-amanah.html/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 11:56:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>toni</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[amanah]]></category>

		<category><![CDATA[P&K]]></category>

		<category><![CDATA[pengingatan]]></category>

		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<category><![CDATA[PO Mabim]]></category>

		<category><![CDATA[PO MK]]></category>

		<category><![CDATA[PO PSAU]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://tonidermawan.net/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Ketika seseorang dilahirkan ke dunia ini akan terbentuk suatu pertanggungjawaban dari setiap tubuh manusia. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT pada surat An Nahl:93, &#8220;&#8230; Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan&#8220;. Dari sini saya mulai berpikir akan amanah yang Allah berikan kepada saya. Saya berpikir apakah amanah yang saya jalankan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika seseorang dilahirkan ke dunia ini akan terbentuk suatu pertanggungjawaban dari setiap tubuh manusia. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT pada surat An Nahl:93, &#8220;&#8230; <strong>Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan</strong>&#8220;. Dari sini saya mulai berpikir akan amanah yang Allah berikan kepada saya. Saya berpikir apakah amanah yang saya jalankan sesuai dengan jalan-Nya?</p>
<p>Tadi saat akan melaksanakan rapat P&amp;K (Profesi dan Keilmuan), saya sedikit kesal karena tidak ada yang hadir dalam rapat tersebut. Namun saya berpikir ulang, apakah saya harus kesal kepada mereka (rekan kerja saya)?Saya rasa tidak, memang sebagian besar dari mereka ada yang pulang kampung, ada juga yang mengerjakan tugas, dan sisanya saya tidak tahu. Mungkin saya perlu mengingatkan mereka kembali akan amanahnya di P&amp;K. Saya juga mendapatkan sebuah informasi baru mengenai pentingnya kejujuran (ini beda lagi ceritanya, tetapi tidak enak untuk menceritakannya), pokoknya inti hikmah cerita tersebut &#8220;<strong>seribu makna dibalik kejadian ini</strong>&#8220;.<span id="more-154"></span></p>
<p>Ternyata ujian yang diberikan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya, membuat seseorang menjadi belajar, bahwasanya hidup ini tidak selamanya menyenangkan. Terkadang kita terlena akan kesenangan, namun saat kita dilanda masalah kita baru mulai menyadari akan pentingnya amanah yang Allah berikan kepada kita.</p>
<p>Buat seseorang juga yang menitipkan sebuah amanah kepada saya, Insya Allah akan saya jaga amanah tersebut.</p>
<p style="text-align: center;">Dan saya ucapkan selamat kepada<br />
<span style="font-weight: bold;">Yasna Suwita </span><span style="font-weight: bold;">sebagai PO PSAU</span><span style="font-weight: bold;">, Yuan Hanif Syaniardi sebagai </span><span style="font-weight: bold;">PO Mabim</span><span style="font-weight: bold;"> dan Deni Lukmanul Hakim sebagai </span><span style="font-weight: bold;">PO MK PMB 2008.</span></p>
<p>Semoga amanah yang Allah berikan kepada kalian bukan menjadi beban bagi kalian, tetapi menjadi ladang amal bagi kalian.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonidermawan.net/pentingnya-menjaga-sebuah-amanah.html/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
