Gonta-ganti Operator dengan Nomor yang Sama

Saya baru tahu mengenai hal ini (mengganti operator tetapi nomornya masih sama dengan yang lama (operator sebelumnya)) setelah membaca di detikinet pada artikel “Perang Telepon ‘Ancam’ Orang Terkaya di Dunia“. Setelah saya mencari artikel lain yang mungkin sudah membahas ini (Teknologi Number Portability (NP)), ternyata sudah dibahas sejak tahun 2006 (data yang saya temukan). Dari yang saya baca memang butuh persiapan yang lama dari pihak telekomunikasi kita. Menurut artikel ini, sebelum menuju ke NP ada beberapa kemungkinan yaitu :

  • Mergernya beberapa operator selular kemudian berganti menjadi nama baru.
  • Adanya penggunaan secara bersama infrastruktur telekomunikasi untuk masing-masing operator. Mungkin tower dan bandwidth bisa jadi prioritas yang utama.
  • Matinya beberapa operator yang tidak dapat bersaing dengan operator-operator besar.
  • Memerlukan investasi tambahan.

Sedangkan menurut mas kenz, NP sulit diterapkan di Indonesia disebabkan operator tidak mau rugi mengeluarkan uang untuk pengembangan Number Portability di Indonesia dan perilaku pemakai telepon seluler yang berganti nomor karena budaya yang dibentuk oleh operator-operator yang bermain di Indonesia. Menurut saya, ide untuk implementasi NP di Indonesia merupakan ide yang sangat bagus meskipun beberapa operator yang kurang setuju. Wakil Dirut Bakrie Telecom Muhammad Buldansyah, “Dari sisi teknis mungkin tidak ada masalah, barangkali dari sisi investasi perusahaan yang perlu ditambah dan dari sisi perangkat karena harus menambah switching baru dan memerlukan investasi tambahan yang belum dihitung“. Direktur Utama PT Excelcomindo Pratama Tbk. Hasnul Suhaimi mengatakan, “NP sulit diterapkan di Indonesia“. Vice President Marketing and CRM Telkomsel Hendri Mulya Sjam mengatakan, “Pihaknya belum membahas masalah tersebut secara internal“. Sebagian operator memang belum siap untuk implementasi NP. Namun saya ingin sekali jikalau teknologi NP ini bisa diterapkan di Indonesia, kan asyik nggak perlu beli perdana operator lain. Satu nomor yang sama bisa berubah-ubah operatornya, apalagi sekarang banyak tarif perang antar operator yang cenderung merugikan konsumen (konsumen dibohongi). Rencananya teknologi NP ini akan diterapkan di Indonesia pada tahun 2011. Baru rencana memang, tetapi saya harap rencana ini bukan hanya menjadi wacana saja karena memang NP sudah diterapkan di beberapa negara yaitu Singapura pada 1997, Australia pada 2001, Finlandia Juli 2003, dan Meksiko yang dimulai pada minggu pertama Juli 2008.

Teknologi yang memang saya butuhkan saat ini mengingat operator yang saya gunakan yaitu Telkomsel yang cenderung masih mahal dibandingkan oeprator lain. Mau pindah operator, sayangnya nomor saya ini sudah tersebar dimana-mana (halah), kalau mau ganti harus SMS semua teman-teman dan saudara saya. Akhirnya sampai saat ini saya masih bertahan dengan nomor yang lama.

Buat Pemerintah semoga NP bukan menjadi omongan saja, tetapi memang cocok diterapkan di Indonesia. Apalagi persaingan antar operator yang cenderung kurang sehat. Buat operatornya juga mendukung NP, jangan lagi mengecewakan atau bahkan membohongi konsumen.

Sebagai penutup saya copy-paste tulisan Fitri Yuli Zulkifli ST, M.Sc Tenaga Pengajar di Departemen Teknik Elektro FT UI, “Timbulnya monopoli sistem telekomunikasi seluler karena matinya operator-operator yang tidak mampu bertahan bukanlah sesuatu yang ingin dicapai dengan penerapan mobile number portability. Sebaliknya, operator-operator yang terlibat juga harus memiliki kapasitas jumlah pelanggan yang cukup sehingga mampu menerima adanya migrasi pelanggan“.

No Comments yet »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

:hi: :naksir: :keren: :ngayal: more »

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress with GimpStyle Theme design by Horacio Bella.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.