Solusi Bukan Polusi

Bertambahnya penduduk indonesia yang diperkirakan di tahun 2025 mencapai 273,65 juta jiwa apalagi posisi Indonesia saat ini di posisi keempat dari jumlah penduduk terbanyak se-dunia. Tentunya dengan bertambahnya populasi manusia bertambah pula sampah yang dihasilkan oleh manusia. Tingkat pencemaran lingkungan akibat pengelolaan sampah di Indonesia, ibarat kanker sudah memasuki stadium IV, hanya mampu diselesaikan dengan amputasi. Kondisi parahnya pengelolaan sampah tersebut diungkapkan Direktur Eksekutif Dana Mitra Lingkungan Sri Bebasari dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Pansus RUU Pengelolaan Sampah, di gedung DPR, Rabu (13/06/2007). Begitu parahkah masalah sampah di Indonesia saat ini?Begitulah jadinya jika seseorang memiliki kesadaran akan membuang sampah pada tempat sampah bukan pada tempatnya (tempat selain tempat sampah).

Bagaimana kalau sudah membuang sampah pada tempat sampah, apakah tindakan saya ini benar?Memang tindakan tersebut sudah benar tetapi setelah sampah itu dibuang, dipisah sesuai jenisnya (organik atau nonorganik) setelah itu disatukan kembali di TPA (Tempat Pengolahan Sampah). Kurangnya ahli di bidang sampah pun menjadi penghambat dalam mengatasi masalah sampah, apalagi dukungan pemerintah yang kurang seperti yang terjadi kasus penumpukan sampah di kota bandung. Menurut salah satu ahli sampah Indonesia, Dr. Enri Damanhuri, “Dulu orang–orang biasanya tertarik pada pengelolaan air minum atau air buangan, tidak ada yang memilih sampah. Karena itu sebelum saya berangkat ke Perancis untuk mengambil S2 dan S3 saya berpikir, harus ada yang mengisi kekosongan ini.” Pak Enri menjadi doktor pertama di Indonesia yang bergerak di bidang persampahan.

Sebagai seorang mahasiswa yang berkuliah di dunia TIK yaitu Fasilkom UI. Saya mencoba berpikir apakah ada cara yang mungkin menarik bagi sebagian orang untuk mengatasi kerusakan lingkungan?Ternyata ada cara yang menarik yang dilakukan oleh tim Antarmuka ITB yang berhasil memenangkan Rural Innovation Award pada Imagine Cup 2008. Ide yang mereka gunakan cukup menarik yaitu sistem pelaporan yang memungkinkan siapapun secara segera dapat melaporkan masalah lingkungan melalui suara, sms, mms, aplikasi mobile, dan web ke sistem yang diciptakan ini. Setelah mendapat laporan, Butterfly akan mengklasifikasi masalah berdasarkan kategori kemendesakan dan lokasi. Setelah itu, laporan diteruskan ke otoritas yang bertangungjawab sehingga masalah yang timbul dapat ditangani secara lokal. Laporan dan bagaimana respon otoritas yang bertangung jawab akan ditampilkan dalam sistem Butterfly yang dapat diakses oleh publik.

Ide yang dikembangkan oleh tim Antarmuka bagi saya sangat menarik. Apalagi jika sistem tersebut diterapkan oleh pemerintah Indonesia. Tugas pemerintah menjadi lebih mudah dengan adanya sistem tersebut. Lembaga-lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang lingkungan pun menjadi semakin mudah. Contohnya British Counsil Indonesia yang memiliki program yaitu mengenai perubahan iklim. Tentunya membutuhkan data-data mengenai masalah lingkungan untuk mencari tahu sudah sejauh mana iklim telah berubah. Biasanya perubahan lingkungan bisa dilihat dari berbagai macam masalah lingkungan yang terjadi dalam suatu daerah.

Kedepannya masalah-masalah yang berkaitan dengan lingkungan dapat diatasi dengan mudah dan cepat karena sudah didukung oleh sistem informasi yang baik.

#######################################

Lanjutan artikel ini dapat Anda baca di sini.

3 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. iya Ton, gue kemaren juga liat di MetroTV yang soal Butterfly itu… keren euy…

    cuman untuk penerapan di Indonesia gue masih kurang yakin… gimana ya.. kalo udah ngomong teknologi, Indonesia masih agak gimanaa gitu hehe.. bukan underestimate sih.. cuman bicara fakta…

    sebagai orang awam yang tidak mengerti dunia persampahan dan melihat jika Indonesia termasuk negara seribu pulau, gue mengusulkan untuk diadakannya satu pulau yang disebut pulau sampah untuk menampung sampah-sampah negeri ini, termasuk sampah masyarakat hehe… piss!!

    Comment by malinda — July 22, 2008 #

  2. nice blog… link ah..

    Comment by Niko — July 23, 2008 #

  3. #malinda
    Pulau sampah?Hmmmh,,kayaknya nggak perlu deh lagian butuh biaya banyak, lebih baik banyak ahli sampah di Indonesia

    #Niko
    Terima kasih

    Comment by toni dermawan — July 23, 2008 #

Leave a comment

:hi: :naksir: :keren: :ngayal: more »

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress with GimpStyle Theme design by Horacio Bella.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.

Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported
This work by toni dermawan y is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported.