Susah nggak sih berbuat jujur?

Tadi pas sholat jum’at sang khotib membahas masalah mengenai kenaikan BBM yang dikaitkan dengan kejujuran Pemerintah dalam defisit APBN. Pengalihan subsidi BBM kepada kesehatan tapi di Indonesia pelayanan subsidi seperti pada Askeskin, kualitasnya masih buruk dalam pelayanannya (dipandang sebelah mata oleh RS yang menyediakan fasilitas itu) dibandingkan dengan Srilangka pelayanan bagi warga yang kurang mampu mendapat fasilitas yang sama dengan yang membayar atau mampu. Masalah korupsi di Indonesia pun dibahas, ada yang menarik yang diceritakan oleh khotib yaitu makanan yang haram dapat merusak jiwa. Menurut beliau saat kuliah di luar negeri, ada seorang temannya yang makan di restauran namun karena pengusaan bahasa asing yang kurang maka dia bertanya kepada pelayan tentang menu X (ga tahu nama menunya apa?), apakah terbuat dari bahan babi atau tidak?Namun kata pelayan tidak memakai bahan babi. Tapi setelah dia sampai di asrama mahasiswa, dia langsung liat kamus, eh ternyata menu itu pake bahan babi, langsung dia memuntahkan makanan itu. Intinya adanya internalisasi dalam diri kita bahwa yang haram dapat merusak organ dan pikiran kita.

Kejujuran dianggap sebelah mata oleh orang lain, orang lain lebih menghargai orang berduit, orang berkuasa ketimbang orang baik atau orang jujur. Sedih juga ngeliyatnya hampir di segala bidang aktifitas sogok-menyogok atau suap-menyuap berkeliaran dimana-mana. Saya sampai malas berurusan dengan administratif pemerintah seperti membuat KTP, surat keterangan lain.

Beralih lagi ke kampus saya di Fasilkom UI, tindakan mahasiswa yang kurang jujur (bukan dalam ujian tentunya) teman saya lumayan banyak yang menitipkan absen kepada temannya. Bagaimana negara ini mau maju ketika calon-calon pemimpin bangsa sudah tidak jujur. Bagaimana rakyat yang akan dipimpinnya bisa percaya dengan pemimpin seperti itu?Apalagi banyak teman-teman saya yang menggunakan produk bajakan pada komputer dan laptop mereka, bagi mereka nggak masalah program laptop mereka itu bajakan atau nggak, mereka malas belajar software-software yang cenderung lebih terkenal terlebih dahulu seperti photoshop, corel draw, atau software lainnya. Mengingat mereka itu tidak menggunakan secara legal (dengan membeli lisensi dari software tersebut), lagi-lagi teman-teman saya tidak berbuat jujur. Padahal sebagai anak Fasilkom UI tentunya kita harus belajar untuk tidak menggunakan software bajakan, mereka bisa mempelajari software freeware atau open source software.

Menurut pendapat temen-temen, berbuat jujur itu susah nggak?

4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. pertamaxx… hehe

    di FISIP pun bgitu,,,
    banyak yg titip absen,,,

    klo mnrt saiia,,, ga susah sih,,asal udah dibiasakan dan kmdian terinternalisasi dalam diri…

    Comment by rifa — May 30, 2008 #

  2. hoo… ga pertama yak?? ko skrg pake moderasi….??

    Comment by rifa — May 30, 2008 #

  3. :hiks: tersindir tajam ketika kata-kata ‘nitip absen’ disebut..

    Comment by azkaa,, — May 31, 2008 #

  4. [...] BBM yang dilakukan oleh sebagian orang Indonesia, hal yang penting yang dapat diangkat adalah kejujuran bangsa kita yang sudah semakin menurun. Menariknya kejujuran ini sudah menjadi barang langka, [...]

    Pingback by Pengalihan Subsidi BBM » tonidermawan.net — June 1, 2008 #

Leave a comment

:hi: :naksir: :keren: :ngayal: more »

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Powered by WordPress with GimpStyle Theme design by Horacio Bella.
Entries and comments feeds. Valid XHTML and CSS.